๐Ÿ‘€

HITAM MEMBEKAS

News

CASTILLO DE COCHEM, RHINELAND - JERMAN

-[0]-

Castillo de Cochem, juga dikenal sebagai Reichsburg Cochem, adalah sebuah kastil yang terletak di atas bukit di kota Cochem, Rhineland, Jerman. Sejarah kastil ini dimulai sekitar tahun 1000 M, ketika dibangun oleh Pangeran Palatinat, Ezzo.

Kastil ini awalnya berfungsi sebagai benteng pertahanan dan tempat tinggal bagi Pangeran Palatinat. Pada tahun 1151, Raja Konrad III mengambil alih kastil ini dan menjadikannya sebagai kastil kekaisaran. Pada abad ke-13, kastil ini diwariskan kepada Uskup Agung Trier, yang kemudian memperluas dan memperkuatnya.




Pada tahun 1689, kastil ini dihancurkan oleh pasukan Perancis di bawah Raja Louis XIV. Selama perang Liga Augsburg, wilayah Luis Cochem dan kastilnya diduduki dan diperintah oleh Prancis selama perang Napoleon. Selama hampir 200 tahun, kastil ini menjadi reruntuhan hingga akhirnya dibeli oleh Louis Ravenรฉ, seorang pedagang Berlin, pada tahun 1868. Ravenรฉ kemudian merekonstruksi kastil ini dalam gaya Neo-Gothic.



Saat ini, Castillo de Cochem dimiliki oleh kota Cochem dan dikelola oleh Reichsburg Cochem Ltd. Kastil ini telah menjadi salah satu destinasi wisata populer di Jerman, menawarkan pemandangan indah kota Cochem dan Sungai Moselle.






Source:
 Info AI


TAMAN NASIONAL BALI BARAT (TNBB)

-[0]-

Taman Nasional Bali Barat (TNBB) adalah satu-satunya taman nasional di Provinsi Bali, yang berfungsi sebagai kawasan konservasi utama untuk melindungi keanekaragaman hayati terestrial dan laut. Kawasan ini mencakup ekosistem hutan hujan tropis, mangrove, savana, pantai, dan terumbu karang, menjadikannya habitat penting bagi spesies endemik seperti Jalak Bali yang terancam punah. TNBB juga kaya akan nilai budaya Hindu Bali, dengan situs-situs religi yang terintegrasi dalam alamnya. Luasnya sekitar 19.002,89 hektare (15.587,89 ha daratan dan 3.415 ha perairan), menempati sekitar 10% luas daratan Bali.

TNBB terletak di ujung barat Pulau Bali, meliputi Kabupaten Buleleng dan Jembrana, Provinsi Bali, dengan koordinat 8°05'–8°17' LS dan 114°26'–114°35' BT. Topografinya bervariasi dari dataran rendah hingga pegunungan setinggi 1.414 mdpl (Gunung Patas sebagai puncak tertinggi).

Cara Akses

  • Dari Bandara Ngurah Rai (Denpasar): Naik mobil/bus ke Gilimanuk (3–4 jam), lalu lanjut ke pos masuk Labuhan Lalang atau Banyuwedang (30–45 menit).
  • Dari Pelabuhan Gilimanuk (ferry dari Jawa): Langsung ke pos masuk utama.
  • Transportasi: Mobil sewaan atau ojek; parkir tersedia. Disarankan datang pagi untuk menghindari panas.



TNBB awalnya ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa pada 1941 oleh pemerintah kolonial Belanda untuk melindungi Jalak Bali. Pada 1982, statusnya ditingkatkan menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, kemudian resmi menjadi taman nasional pada 1995 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995. Kawasan ini berkembang dari upaya konservasi lokal menjadi situs ekowisata internasional, dengan peningkatan kunjungan dari 5.592 orang (2005) menjadi 58.680 orang (2017).

Flora dan Fauna

TNBB memiliki 140 spesies flora dari 69 famili, termasuk pohon endemik seperti ketapang dan mangrove. Fauna mencakup sekitar 205 spesies burung (dari 16 famili), 28 mamalia, 30 reptil, dan 6 amfibi.

Fauna Utama

  • Burung | Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), elang bondol. Statusnya Terancam punah (Critically Endangered untuk Jalak Bali)
  • Mamalia | Rusa Bali, banteng Jawa, lutung Jawa, monyet ekor panjang yang Dilindungi
  • Reptil | Penyu hijau, ular sanca yang statusnya Dilindungi
  • Laut | Ikan hias, terumbu karang (70 jenis) 



Fokus utama TNBB adalah penangkaran dan pemulihan populasi Jalak Bali melalui pusat penangkaran di Sibang. Upaya meliputi patroli anti-perburuan, rehabilitasi habitat mangrove, dan edukasi masyarakat. Kolaborasi dengan UNESCO dan LSM seperti TNC mendukung pemantauan biodiversitas. Ancaman utama adalah konversi lahan dan pariwisata berlebih, sehingga diterapkan zonasi ketat untuk daya dukung wisata.

TNBB buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB. Harga tiket masuk Rp25.000–Rp50.000 (lokal) dan Rp150.000–Rp250.000 (asing), plus biaya tambahan untuk snorkeling/diving.

Spot Populer
  • Pulau Menjangan: Snorkeling/diving di terumbu karang terbaik Asia Tenggara; habitat penyu dan ikan tropis.
  • Teluk Terima: Pantai berpasir hitam, trekking ke Candi Taman Sari dan Makam Jayaprana-Layonsari; wisata religi.
  • Pura-Pura (Pura Pulaki, Pura Gili Kencana) Situs Hindu dengan pemandangan laut; ritual budaya.
  • Sumber Air Panas Banyuwedang: Mandi terapeutik di mangrove; observasi burung.
  • Birdwatching di Savana: Pengamatan Jalak Bali dari menara; trekking ringan.




Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mencakup beberapa pulau kecil, seperti Pulau Menjangan, yang merupakan salah satu destinasi wisata utama untuk snorkeling dan diving. Namun, Pulau Menjangan tidak berpenghuni secara permanen oleh masyarakat. Pulau ini hanya dikunjungi oleh wisatawan dan dikelola sebagai bagian dari zona wisata TNBB. Di daratan, terdapat beberapa desa penyangga di sekitar TNBB, seperti Desa Sumberklampok dan Desa Pejarakan, yang dihuni masyarakat lokal. Masyarakat di desa-desa ini terlibat dalam kegiatan pertanian, perikanan, dan ekowisata, seperti menjadi pemandu atau penyedia jasa transportasi. Tidak ada pulau di dalam TNBB yang memiliki pemukiman tetap.


Tips: Gunakan guide ranger (Rp100.000/hari); bawa tabir surya dan air minum. Penginapan: Wisma Cinta Alam atau homestay di Pemuteran.

Selamat Menjelajah..!



* setiap harga yang tercantum harap cek update


Source:


TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (TNAP)

-[0]-

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) adalah salah satu kawasan konservasi alam terpenting di Indonesia, terletak di ujung timur Pulau Jawa. Nama "Alas Purwo" dalam bahasa Jawa berarti "hutan pertama" atau "hutan tertua", merujuk pada keyakinan bahwa kawasan ini adalah tanah pertama yang tercipta saat pembentukan Pulau Jawa. Selain kaya akan keanekaragaman hayati, TNAP juga dikenal dengan aura mistisnya, sering disebut sebagai hutan paling angker di Jawa karena cerita rakyat tentang kerajaan gaib dan kejadian supranatural.

TNAP berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo. Kawasan ini membentang di Semenanjung Blambangan, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di selatan, dengan koordinat 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT. Luas totalnya sekitar 43.420–44.037 hektare, dengan topografi datar hingga bergelombang, puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl), dan sungai-sungai dangkal seperti Sungai Segoro Anak.



Akses ke Taman Nasional Alas Purwo

  • Dari Bandara Juanda Surabaya: Naik kereta atau bus ke Stasiun/Stasiun Karangasem Banyuwangi (4–5 jam), lalu lanjut ojek/mobil sewaan ke Pos Rowobendo (pintu masuk utama, 1 jam).
  • Dari Pelabuhan Ketapang (ferry Gilimanuk): 30–45 menit ke Banyuwangi, lalu 1 jam ke TNAP.
  • Transportasi umum terbatas; disarankan mobil pribadi atau sewa. Parkir tersedia di pos masuk.

TNAP awalnya ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan pada 1 September 1939 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda (luas 62.000 ha). Pada 1982, statusnya diubah menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Alas Purwo (luas 43.420 ha). Resmi menjadi taman nasional pada 1997 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 288/Kpts-II/1997. Kawasan ini juga menyimpan situs bersejarah seperti Situs Kawitan (candi Hindu) dan Makam Gandrung, serta sering menjadi lokasi ritual seperti Pagerwesi (umat Hindu) dan Malam Satu Suro.




TNAP memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan berbagai ekosistem: hutan hujan dataran rendah, mangrove, hutan pantai, savana, hutan bambu, dan pantai. Lebih dari 700 jenis tumbuhan dari 123 famili, termasuk ketapang (Terminalia catappa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 10 jenis bambu.

Fauna Utama
  • Mamalia | Banteng Jawa (Bos javanicus), rusa Timor, macan tutul Jawa, babi hutan statusnya Terancam punah (Critically Endangered untuk banteng)
  • Burung | Lebih dari 250 jenis, termasuk elang Jawa (endemik), merak hijau (Pavo muticus) setatusnya Terancam punah (Endangered untuk elang Jawa)
  • Reptil & Amfibi | 70 jenis herpetofauna, termasuk penyu lekang, penyu hijau (Chelonia mydas), ular sanca bodo.
Kawasan ini menjadi habitat utama satwa endemik Jawa dan lokasi bertelur penyu.




Aktivitas dan Spot Wisata
TNAP buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB. Harga tiket masuk (HTM) sekitar Rp25.000–Rp50.000 per orang (tergantung pos masuk, cek update di Instagram @btn_alaspurwo). Aktivitas utama meliputi wisata alam, observasi satwa, dan budaya mistis.

Spot Populer
  • Savana Sadengan: Padang rumput 80 ha untuk safari banteng dan rusa; kunjungi pagi/sore hari dari menara pandang.
  • Pantai Plengkung (G-Land): Surfing dengan ombak kelas dunia (top 3 Asia Tenggara); akses 1 jam dari pos masuk.
  • Pantai Pancur & Cungur: Pantai pasir putih, mangrove, habitat burung migran; dilarang berenang karena ombak ganas.
  • Gua-Gua (seperti Gua Istana): 44 gua karst untuk eksplorasi; hati-hati, beberapa angker.
  • Situs Budaya: Pura Luhur Giri Salaka, Situs Kawitan, Makam Gandrung.
  • Ekowisata: Konservasi penyu (booking online via situs resmi).

Tips
  • Bawa guide lokal untuk trekking (biaya Rp100.000–Rp200.000/hari).
  • Hindari malam hari karena mistis dan keselamatan.
  • Penginapan: Homestay di sekitar atau camping di zona khusus.

TNAP bukan hanya destinasi alam, tapi juga warisan budaya yang lestari. Untuk info terbaru, kunjungi situs resmi tnalaspurwo.ksdae.kehutanan.go.id atau hubungi Balai TNAP. Selamat Menjelajah!


* setiap harga yang tercatat di harapkan untuk cek update.


Source:


ZHANGJIAJIE NATIONAL FOREST PARK - CHINA

-[0]-

Taman Hutan Nasional Zhangjiajie, Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Tiongkok, terkenal dengan 3.000 pilar batupasir kuarsa yang merupakan formasi alam yang terbentuk selama lebih dari 380 juta tahun oleh pengangkatan dan erosi geologis.




Taman Nasional ini merupakan bagian dari Kawasan Pemandangan Wulingyuan yang lebih besar, yang memiliki spesies tumbuhan langka, aliran sungai yang jernih, dan keanekaragaman hayati yang kaya, menjadikannya lokasi penting untuk penelitian dan konservasi ekologi.



Lift Bailong yang terkenal, lift luar ruangan tertinggi di dunia, dan Jembatan Kaca Zhangjiajie menawarkan pemandangan lanskap yang tak tertandingi yang menginspirasi pegunungan terapung dalam film Avatar, memadukan keindahan alam dengan rekayasa manusia.


Terlihat seperti langsung diambil dari film Avatar, tapi ini 100% nyata, selamat datang di Zhangjiajie!

Taman Hutan Nasional Zhangjiajie, Tiongkok






Source:


THE GREAT METEORON MONASTERY - GREECE

-[0]-

Jauh di atas dataran Thessalia, Biara Meteoron Agung menjulang dari pilar batu seolah-olah diukir dari langit itu sendiri. Didirikan pada abad ke-14 Masehi oleh Santo Athanasios sang Meteorit, ini adalah biara pertama dan terbesar di Meteora, tempat para biarawan mencari pengasingan, keselamatan, dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.

Batu tempat monumen itu berdiri dikenal sebagai "Meteoron Agung" adalah yang tertinggi di wilayah tersebut, sebuah benteng alami yang dibentuk oleh jutaan tahun angin dan air. Selama berabad-abad, satu-satunya cara untuk mencapai puncak adalah dengan tangga tali dan keranjang yang ditarik dengan tangan. Para biarawan menggambarkan pendakian itu bukan sebagai pendakian biasa, tetapi sebagai ujian iman: Anda mencapai puncak hanya ketika Tuhan mengizinkan tali itu untuk menahan beban.



Pada masa kejayaannya, Great Meteoron adalah pusat monastik yang berkembang pesat. Manuskrip disalin di sini, perdebatan teologis memenuhi halaman, dan dinding-dindingnya ditutupi dengan lukisan dinding bergaya Bizantium akhir, banyak di antaranya masih bertahan hingga kini dengan warna dan detail yang menakjubkan.

Pengasingan itu bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga strategis. Selama periode kekacauan di daratan Yunani, biara-biara Meteora menjadi tempat perlindungan, bangkit di atas konflik seperti halnya bebatuan yang menjulang di atas dataran.



Berdiri di sini hari ini, pemandangan terbentang di atas pegunungan, lembah, dan kota-kota di kejauhan. Keheningan ini sama dengan keheningan yang didengar para biarawan enam ratus tahun yang lalu. Great Meteoron lebih dari sekadar biara. Ini adalah monumen ketahanan, diukir di atas batu yang menyentuh awan.






Source: 


LINK LIVE STREAMING



-[0]-


  • Klik Play Untuk Streaming atau bisa pilih pada link alternative di bawah,
  • Apabila terjadi kendala pada salah satu link coba pilih pada link yang lainya,
  • Refresh halaman apabila video streaming belum ada,
  • Link akan tersedia saat pertandingan dimulai.






MONZIE CASTLE

-[0]-

Kastil Monzie sendiri merupakan rumah besar berbenteng, yang awalnya dibangun oleh James Graeme setelah ibunya, Margaret Scott, pewaris Monzie, menghibahkan tiga perempat tanah kepadanya pada tahun 1613.

Perkebunan itu kemudian dijual kepada Colin Campbell dari Lagvinshoch pada tahun 1666 dan keturunannya, Jenderal Alexander Campbell, MP, memperluas rumah tersebut dengan menambahkan bangunan berbenteng yang jauh lebih besar di sisi timurnya pada tahun 1797-1800 yang dirancang oleh John Patterson.



Kastil Monzie meninggalkan kepemilikan Campbell pada tahun 1869 ketika dijual kepada keluarga Johnstone dari Lathrisk. Pada tahun 1908, kebakaran hebat melanda kastil tersebut, hanya menyisakan dinding luarnya. Arsitek Skotlandia terkemuka saat itu, Sir Robert Lorimer, ditugaskan untuk merestorasi kastil tersebut seperti yang kita lihat sekarang.



Apabila selesai renovasi pondok tersebut akan nampak memukau. Dan Pondok tersebut saat ini sedang dalam renovasi (14-11-2025).






Source:


ZIGGURAT UR - MESOPOTAMIA

-[0]-

Ziggurat Ur adalah salah satu monumen paling ikonik dari peradaban Mesopotamia kuno, terletak di kota Ur (sekarang Tell el-Muqayyar, selatan Irak modern, sekitar 16 km dari Nasiriyah). Dibangun sekitar abad ke-21 SM pada masa Dinasti Ketiga Ur (Ur III), ziggurat ini didedikasikan untuk Nanna (atau Sin), dewa bulan Sumeria, pelindung kota Ur.

Kemungkinan besar dibangun oleh Raja Ur-Nammu (2112–2095 SM), pendiri Dinasti Ur III, dan diselesaikan oleh putranya, Shulgi. Tujuan sebagai tempat suci untuk ibadah kepada dewa bulan dan merupakan simbol kekuasaan politik dan religius raja.

Ziggurat Ur bukan hanya kuil biasa, tapi "rumah gunung" bagi dewa atau tempat dewa "turun dari langit". Kota Ur juga merupakan pusat perdagangan, politik, dan agama yang sangat maju pada masanya.

Ziggurat adalah bangunan bertingkat berbentuk piramida terpotong (stepped pyramid), terbuat dari batu bata lumpur bakar (baked brick) inovasi penting untuk ketahanan struktur.



Tingkat 1 (dasar) : Panjang 64 m, lebar 46 m, tinggi ~11 m. Terbuat dari batu bata padat.

Tingkat 2 : Lebih kecil, diakses melalui tangga monumental di depan.

Tingkat 3 : Hanya sebagian yang tersisa; puncaknya kemungkinan memiliki kuil kecil (cellar) untuk Nanna.

Total tinggi asli : Diperkirakan 30 meter (sekitar 7 lantai, tapi hanya 3 yang terlihat jelas).


Fitur unik:

  • Tiga tangga besar bertemu di tengah menuju puncak (sistem tangga "tripartit").
  • Dinding luar dilapisi bitumen (aspal alami) sebagai pelindung dari erosi.
  • Batu bata bertanda cap raja (misalnya: "Ur-Nammu, raja Ur, yang membangun kuil Nanna").



Digali oleh Sir Leonard Woolley (1922–1934) atas nama British Museum dan University of Pennsylvania. Di temukan Makam Kerajaan Ur (Royal Tombs): 16 makam bangsawan dengan harta karun emas, perak, dan lapis lazuli. Kotak kayu berhiaskan mosaik cangkang dan batu, menggambarkan perang dan perdamaian. Juga ribuan tablet tanah liat beraksara kuneiform (administrasi, puisi, hukum).

Kondisi Saat Ini Rusak parah akibat Erosi alam selama ribuan tahun. Perang Teluk (1991) dan invasi AS (2003) digunakan sebagai pangkalan militer. Saat ini dilindungi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (bersama Ahwar Irak Selatan, 2016).



Ziggurat adalah model kosmologi Sumeria: gunung suci yang menghubungkan bumi dan langit. Menginspirasi menara Babel dalam Alkitab (meski Etemenanki di Babel lebih mirip). Menunjukkan kemampuan teknik Mesopotamia: sistem drainase, perhitungan matematis, organisasi tenaga kerja besar.

Ziggurat Ur bukan sekadar bangunan, ia adalah jendela ke peradaban pertama di dunia yang mengenal tulisan, hukum, dan kota terencana.

"Di Ur, di mana langit bertemu bumi, Nanna turun di malam yang bercahaya."

— Inspirasi dari puisi Sumeria kuno.







Source: