TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (TNAP)
-[0]-
Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) adalah salah satu kawasan konservasi alam terpenting di Indonesia, terletak di ujung timur Pulau Jawa. Nama "Alas Purwo" dalam bahasa Jawa berarti "hutan pertama" atau "hutan tertua", merujuk pada keyakinan bahwa kawasan ini adalah tanah pertama yang tercipta saat pembentukan Pulau Jawa. Selain kaya akan keanekaragaman hayati, TNAP juga dikenal dengan aura mistisnya, sering disebut sebagai hutan paling angker di Jawa karena cerita rakyat tentang kerajaan gaib dan kejadian supranatural.
TNAP berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo. Kawasan ini membentang di Semenanjung Blambangan, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di selatan, dengan koordinat 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT. Luas totalnya sekitar 43.420–44.037 hektare, dengan topografi datar hingga bergelombang, puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl), dan sungai-sungai dangkal seperti Sungai Segoro Anak.
Akses ke Taman Nasional Alas Purwo
- Dari Bandara Juanda Surabaya: Naik kereta atau bus ke Stasiun/Stasiun Karangasem Banyuwangi (4–5 jam), lalu lanjut ojek/mobil sewaan ke Pos Rowobendo (pintu masuk utama, 1 jam).
- Dari Pelabuhan Ketapang (ferry Gilimanuk): 30–45 menit ke Banyuwangi, lalu 1 jam ke TNAP.
- Transportasi umum terbatas; disarankan mobil pribadi atau sewa. Parkir tersedia di pos masuk.
TNAP awalnya ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan pada 1 September 1939 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda (luas 62.000 ha). Pada 1982, statusnya diubah menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Alas Purwo (luas 43.420 ha). Resmi menjadi taman nasional pada 1997 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 288/Kpts-II/1997. Kawasan ini juga menyimpan situs bersejarah seperti Situs Kawitan (candi Hindu) dan Makam Gandrung, serta sering menjadi lokasi ritual seperti Pagerwesi (umat Hindu) dan Malam Satu Suro.
- Mamalia | Banteng Jawa (Bos javanicus), rusa Timor, macan tutul Jawa, babi hutan statusnya Terancam punah (Critically Endangered untuk banteng)
- Burung | Lebih dari 250 jenis, termasuk elang Jawa (endemik), merak hijau (Pavo muticus) setatusnya Terancam punah (Endangered untuk elang Jawa)
- Reptil & Amfibi | 70 jenis herpetofauna, termasuk penyu lekang, penyu hijau (Chelonia mydas), ular sanca bodo.
- Savana Sadengan: Padang rumput 80 ha untuk safari banteng dan rusa; kunjungi pagi/sore hari dari menara pandang.
- Pantai Plengkung (G-Land): Surfing dengan ombak kelas dunia (top 3 Asia Tenggara); akses 1 jam dari pos masuk.
- Pantai Pancur & Cungur: Pantai pasir putih, mangrove, habitat burung migran; dilarang berenang karena ombak ganas.
- Gua-Gua (seperti Gua Istana): 44 gua karst untuk eksplorasi; hati-hati, beberapa angker.
- Situs Budaya: Pura Luhur Giri Salaka, Situs Kawitan, Makam Gandrung.
- Ekowisata: Konservasi penyu (booking online via situs resmi).
- Bawa guide lokal untuk trekking (biaya Rp100.000–Rp200.000/hari).
- Hindari malam hari karena mistis dan keselamatan.
- Penginapan: Homestay di sekitar atau camping di zona khusus.











