πŸ‘€

HITAM MEMBEKAS

Sports

News

TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

-[0]-

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah kawasan konservasi terluas di Pulau Jawa, berlokasi di Jawa Barat dan Banten, dengan luas 113.357 hektare. TNGHS mencakup dua puncak utama, yaitu Gunung Halimun (1.929 mdpl) dan Gunung Salak (2.211 mdpl), serta memiliki topografi berbukit hingga bergunung dengan ketinggian 500–2.211 mdpl. Kawasan ini merupakan hutan hujan tropis pegunungan dan dataran rendah terbesar di Jawa, berperan penting sebagai daerah tangkapan air dengan lebih dari 115 sungai yang berhulu di sini, seperti Sungai Cisadane, Cidurian, dan Ciujung.

Ekosistem TNGHS terbagi menjadi tiga zona vegetasi berdasarkan ketinggian:

1. Zona Perbukitan (Colline, 900–1.150 mdpl): Hutan dataran rendah dengan vegetasi primer, menjadi habitat utama flora dan fauna endemik.

2. Zona Hutan Pegunungan Bawah (Submontane, 1.050–1.400 mdpl): Didominasi hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi.

3. Zona Hutan Pegunungan Atas (Montane, >1.500 mdpl): Vegetasi khas pegunungan tropis, sering diselimuti kabut, mendukung spesies yang adaptif terhadap ketinggian.

Zona atas (montane) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, yang terletak di ketinggian di atas 1.500 mdpl, didominasi oleh vegetasi khas hutan pegunungan tropis yang sering diselimuti kabut. Tumbuhan yang terkonsentrasi di zona ini meliputi:

- Agathis dammara (damar): Pohon konifer besar yang menjadi bagian penting ekosistem pegunungan.

- Rasamala (Altingia excelsa): Pohon tinggi dengan kayu berkualitas, sering ditemukan di hutan montane.

- Pohon cemara gunung (Casuarina junghuhniana): Tumbuhan adaptif di ketinggian tinggi dengan daun jarum.

- Anggrek epifit: Termasuk berbagai spesies anggrek seperti Coelogyne dan Dendrobium, yang tumbuh menempel pada pohon lain.

- Lumut dan pakis: Melimpah di area berawa atau berbukit, mendukung kelembapan tinggi.

- Hedyotis (Hedyotis verticillata): Tumbuhan kecil yang umum di hutan montane.

Vegetasi ini beradaptasi dengan suhu rendah, curah hujan tinggi (4.000–6.000 mm/tahun), dan kelembapan udara sekitar 88%, menciptakan ekosistem unik yang mendukung spesies endemik.



TNGHS memiliki lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga, termasuk 500 spesies dari 266 genera dan 93 suku, dengan 156 jenis anggrek. Spesies penting meliputi Ficus annulata, Agathis dammara, Bambusa sp., dan Daemonorops melanochaetes. Vegetasi ini mendukung keanekaragaman hayati dan ekosistem penyangga kehidupan, mencegah banjir dan erosi.

Terdapat 61 spesies mamalia, 244 spesies burung (27 di antaranya endemik Jawa), dan berbagai reptil serta serangga. Spesies kunci meliputi:

  - Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas): Predator puncak, berstatus kritis (populasi 8–52 ekor di TNGHS).

  - Owa Jawa (Hylobates moloch): Primata endemik, habitatnya terbatas pada ketinggian <1.200 m.

  - Elang Jawa (Nisaetus bartelsi): Burung endemik langka dengan 10 sarang aktif di TNGHS.

  - Kukang Jawa (Nycticebus javanicus): Primata kecil, kritis akibat perburuan.

  - Ajag (Cuon alpinus), Surili (Presbytis comata), dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus): Spesies endemik lainnya.


Berdasarkan penelitian, 55,84% kawasan TNGHS merupakan habitat bersama tiga spesies kunci (elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa), terutama di zona inti, rimba, pemanfaatan, dan rehabilitasi. Habitat bersama dua spesies kunci (28,78%) terkonsentrasi di zona pemanfaatan, rimba, rehabilitasi, dan inti, pada ketinggian 500–1.000 m untuk dua spesies dan 1.000–1.500 m untuk tiga spesies. Faktor yang memengaruhi keberadaan habitat ini meliputi jarak dari perkebunan, sungai, sumber makanan, dan curah hujan (4.000–6.000 mm/tahun).

TNGHS memiliki iklim tipe A dan B (Schmidt-Ferguson) dengan curah hujan tinggi dan kelembapan udara rata-rata 88%, mendukung ekosistem hutan hujan tropis. Kawasan ini berfungsi sebagai penyangga hidrologi, menyediakan air minum dan irigasi untuk wilayah Bogor, Sukabumi, dan Lebak. Cikaniki, salah satu lokasi di TNGHS, dikenal sebagai pusat kajian ilmiah karena keanekaragaman hayatinya dan interaksi harmonis antara alam dan masyarakat adat seperti Kesepuhan di Ciptagelar.

Selain konservasi, TNGHS menawarkan wisata alam seperti:

* Air Terjun: Curug Piit, Curug Nangka, Curug Macan, dll.

* Puncak Gunung: Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Botol, dll.

* Kawah Ratu: Lokasi berkemah dengan vegetasi unik seperti pohon damar.

* Jembatan Tajuk: Jembatan gantung untuk menikmati panorama hutan.


Catatan Penting

- Pengunjung memerlukan izin khusus untuk mendaki atau berkunjung,

- Penting untuk menjaga kelestarian alam dengan mematuhi peraturan.

TNGHS adalah laboratorium alam yang kaya akan biodiversitas, menawarkan perlindungan bagi spesies endemik dan langka sekaligus menjadi destinasi wisata alam yang menarik. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi TNGHS (halimunsalak.org).




Source:
* Image Ilustrasi AI