TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
-[0]-
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) adalah salah satu taman nasional tertua di Indonesia, yang secara resmi ditetapkan pada 6 Maret 1980 berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 160/Kpts-II/Um/3/1980. Kawasan ini terletak di Provinsi Jawa Barat, meliputi tiga kabupaten: Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Luas total TNGGP mencapai sekitar 15.000–22.851 hektare (data bervariasi antar sumber, dengan luas inti sekitar 15.196 ha yang diperluas pada 2009 melalui serah terima dari Perum Perhutani). TNGGP mencakup dua gunung berapi kembar: Gunung Gede (ketinggian 2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl), yang dihubungkan oleh saddle Kandang Badak (2.400 mdpl). Kawasan ini telah menjadi situs penelitian alam sejak abad ke-19, dengan pendakian pertama ke puncak Gunung Gede dilakukan oleh Reinwardt pada 1819. Pada 1977, TNGGP diakui UNESCO sebagai bagian dari Jaringan Biosfer Dunia (World Network of Biosphere Reserves) karena perannya dalam konservasi hutan pegunungan. Pengelolaan dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan tiga bidang pengelolaan: Wilayah I Cianjur, Wilayah II Sukabumi, dan Wilayah III Bogor.
TNGGP berfungsi sebagai kawasan pelestarian alam untuk melindungi ekosistem hutan hujan tropis pegunungan, sumber air, dan keanekaragaman hayati. Selain itu, kawasan ini menjadi destinasi wisata alam populer, termasuk pendakian, birdwatching, dan rekreasi keluarga, dengan pintu masuk utama seperti Cibodas, Gunung Putri, Selabintana, dan Situ Gunung. Upaya konservasi meliputi pemantauan satwa menggunakan kamera trap, pencegahan perburuan ilegal, dan restorasi hutan untuk mencegah kepunahan spesies langka.
Ekosistem utama TNGGP adalah hutan hujan tropis pegunungan (montane rainforest), yang dibagi menjadi tiga zona berdasarkan ketinggian dan karakteristik vegetasi. Kawasan ini memiliki curah hujan tinggi (sekitar 3.000–4.000 mm/tahun), tanah vulkanik subur, dan topografi curam dengan sungai deras yang membentuk lembah dalam dan punggung bukit panjang. Ekosistem ini berperan sebagai penyangga kehidupan, termasuk sumber air bagi wilayah sekitar Jakarta dan Bogor, serta habitat bagi ribuan spesies hayati.
Berikut rincian zonasi ekosistem:
* Zona Submontana (1.000–1.500 mdpl): Hutan pegunungan bawah yang lebat dengan kanopi tinggi hingga 30–40 m. Dominan pohon dari famili Fagaceae dan Lauraceae, seperti rasamala (Altingia excelsa), saninten (Castanopsis argentea), dan buni (Antidesma tetrandrum). Tumbuhan bawah, epifit (seperti anggrek), paku-pakuan, dan lumut melimpah. Zona ini lembab dan sering berkabut, mendukung kehidupan serangga dan mamalia kecil.
* Zona Montana (1.500–2.500 mdpl): Hutan pegunungan menengah dengan pohon lebih pendek (20–25 m) dan daun kecil. Dominan jamuju (Dacrycarpus imbricatus), puspa (Schima wallichii), dan podokarpus (Podocarpus neriifolius). Tutupan hutan lebih terbuka, dengan minim liana (pemanjat). Di sekitar Kandang Badak, vegetasi berubah menjadi hutan kerdil dengan batang pohon bengkok dan tajuk satu lapis, memungkinkan cahaya matahari masuk ke lantai hutan.
* Zona Subalpin (di atas 2.500 mdpl): Hutan pegunungan atas atau subalpine dengan vegetasi rendah (kurang dari 10 m), sering berupa padang rumput dan semak. Dominan rhododendron (Rhododendron retusum dan R. javanicum), myrsine (Myrsine avenis), dan edelweiss (Anaphalis javanica). Zona ini dingin, berangin, dan rentan erosi, dengan tanaman adaptif terhadap kondisi ekstrem.
Secara keseluruhan, ekosistem TNGGP mendukung siklus air, pencegahan banjir, dan penyerapan karbon, tetapi menghadapi ancaman seperti invasi spesies asing, perubahan iklim, dan tekanan dari masyarakat sekitar (seperti perladangan ilegal).
TNGGP adalah surga bagi flora pegunungan, dengan lebih dari 1.000–1.500 spesies tumbuhan berbunga, 150–400 spesies paku-pakuan, 120 spesies lumut, dan 200+ spesies anggrek (termasuk 4 jenis endemik Jawa). Ada 43 spesies endemik, 10 spesies dilindungi, serta 105 tanaman hias, 100 tanaman survival, dan 107 tanaman obat. Vegetasi didominasi hutan primer pegunungan, dengan pohon raksasa seperti rasamala yang bisa mencapai 50 m.
Beberapa habitat khusus termasuk:
* Hutan Bawah (Submontana): Kaya akan tanaman obat seperti kiurat dan rotan (Daemonorops rubra), serta epifit seperti kantong semar (Nepenthes spp., tanaman karnivor pemburu serangga) dan jamur bercahaya.
* Hutan Menengah (Montana): Habitat jamuju dan puspa, dengan anggrek hutan dan paku-pakuan.
* Padang Atas (Subalpin): Padang edelweiss di Alun-alun Suryakancana (2.750 mdpl), yang menjadi maskot TNGGP. Edelweiss (Anaphalis javanica) tumbuh di ketinggian 1.600–2.600 mdpl, berbunga sepanjang tahun (puncak Juni–Juli), dan tahan lama saat kering.
Spesies endemik langka lainnya: uwi (Dioscorea madiunensis), pinang hijau (Pinanga javana), kapulaga (Amomum pseudofoetens), Anaphalis maxima (endemik Jawa, hanya di Pangrango), dan 9 dari 68 spesies pegunungan langka Jawa yang hanya ditemukan di Gede. Dari 68 spesies langka pegunungan Jawa, 9 hanya di Gunung Gede, dengan 6 endemik Jawa. Upaya konservasi termasuk budidaya edelweiss untuk mencegah pemungutan liar.
TNGGP menjadi habitat bagi lebih dari 100 spesies mamalia, 250 spesies burung (lebih dari 50% burung Jawa), serta amfibi, reptil, dan invertebrata. Kawasan ini melindungi spesies endemik dan endangered menurut IUCN, dengan pemantauan rutin menggunakan kamera trap (misalnya, 21 unit di 84 km² untuk macan tutul). Habitat utama adalah hutan lebat untuk primata dan predator, sungai untuk amfibi, dan kanopi untuk burung.
Beberapa hewan dilindungi:
* Mamalia: Owa Jawa (Hylobates moloch, endangered, populasinya 3.000–5.000 individu, habitat hutan montana); lutung Jawa/surili (Trachypithecus auratus); macan tutul Jawa (Panthera pardus melas, nokturnal, soliter, terpantau di seluruh resort); anjing ajag/dhole (Cuon alpinus); biul/slengket; bajing terbang; kancil/pelanduk Jawa (Tragulus javanicus); kijang (Muntiacus muntjak); babi hutan (Sus scrofa); musang (Paradoxurus hermaphroditus); landak (Hystrix javanica); sigung/teledu (Mydaus javanensis); monyet kra (Macaca fascicularis); kukang.
* Burung: Elang Jawa (Nisaetus bartelsi, endangered, populasinya hampir punah); puyuh gonggong (Arborophila javanica); cicakopi (Pomatorhinus montanus); burung terkecil Jawa seperti siki nangka; 251 dari 450 spesies burung Jawa, termasuk Javan hawk-eagle dan Javan scops owl.
* Amfibi dan Reptil: Katak pohon mutiara (Nyctixalus margaritifer, endemik Jawa); berbagai reptil dan amfibi di zona lembab.
* Invertebrata: Kepik raksasa, kumbang, kupu-kupu, cacing sonari (panjang hingga 60 cm, bersuara dengung); tringgiling.
Upaya konservasi termasuk Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di Bedogol untuk owa Jawa, pencegahan perburuan, dan monitoring tahunan. Ancaman utama adalah habitat fragmentation dan perburuan, tetapi TNGGP berhasil menjaga populasi melalui zonasi dan edukasi masyarakat. Kawasan ini juga mendukung ekowisata untuk pendanaan konservasi.











