KONSERVASI BADAK JAWA
-[0]-
Konservasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon
- Spesies: Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu mamalia paling langka di dunia, hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon setelah kepunahan subspesiesnya di Vietnam pada 2010.
- Populasi: Berdasarkan data terbaru hingga 2023, populasi badak Jawa diperkirakan sekitar ±70-80 ekor, semuanya berada di Semenanjung Ujung Kulon. Angka ini berfluktuasi karena sulitnya pemantauan di habitat hutan yang lebat.
- Ancaman Utama:
* Habitat Terbatas: Badak Jawa hanya menghuni sekitar 30% dari luas taman nasional, terutama di daerah dataran rendah dan rawa.
* Spesies Invasif: Tanaman langkap (Arenga obtusifolia) mengurangi ketersediaan pakan alami seperti rumput dan semak.
* Perburuan: Meskipun telah menurun, ancaman perburuan untuk cula badak masih ada di masa lalu.
* Populasi Kecil: Jumlah yang sedikit meningkatkan risiko kepunahan akibat penyakit atau bencana alam.
* Perubahan Iklim: Kenaikan permukaan laut dapat mengurangi habitat dataran rendah yang menjadi tempat tinggal badak.
Upaya Konservasi
- Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA):
* Didirikan pada 2011, JRSCA adalah area khusus di Semenanjung Ujung Kulon untuk memantau dan melindungi badak Jawa.
* Menggunakan "kamera jebak" untuk memantau populasi, perilaku, dan kesehatan badak tanpa mengganggu habitatnya. Pada 2022, kamera jebak merekam beberapa anak badak, menunjukkan adanya perkembangbiakan.
* Patroli rutin dilakukan untuk mencegah perburuan dan aktivitas ilegal.
- Pengelolaan Habitat:
* Pembersihan Langkap: Upaya untuk menghilangkan tanaman invasif langkap yang mengganggu pakan badak, digantikan dengan penanaman vegetasi asli seperti rumput dan semak.
* Reboisasi: Memulihkan area hutan yang rusak untuk memperluas habitat badak.
- Kawasan Ekspansi:
* Cikepuh dan Cibandawoh: Sejak 2018, ada rencana untuk memperluas habitat badak ke wilayah timur Ujung Kulon, seperti Cikepuh, untuk mengurangi kepadatan populasi di semenanjung dan mencegah konflik antar badak.
* Namun, hingga 2023, sebagian besar badak masih terkonsentrasi di semenanjung karena keterbatasan sumber daya untuk pengelolaan kawasan baru.
- Keterlibatan Komunitas:
* Masyarakat lokal dilibatkan sebagai pemandu wisata, petugas patroli, atau dalam program edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi badak.
* Program ekowisata di Pulau Peucang dan Handeuleum membantu mendanai konservasi melalui pendapatan wisata.
- Kerjasama Internasional:
* Organisasi seperti WWF, International Rhino Foundation, dan IUCN bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mendukung pendanaan, penelitian, dan teknologi konservasi.
* Program seperti "Rhino Protection Unit (RPU)" membantu patroli dan pemantauan.









